UNIVERSITAS HASANUDDIN

  • id

PROGRAM MAGISTER GEOFISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

Category Archives: Field Trip

Iksan Milham (H22116001)

 

Kali ini, kami dari Geofisika Unhas mengadakan sebuah perjalanan ke Mallawa di kabupaten Maros tepat pada tanggal 17 Maret 2018. Kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran di luar kelas dari mata kuliah Statigrafi dan Tektonik Indonesia. Sebelum berangkat ke lokasi pengambilan data, kami dihimbau untuk kumpul di kampus tepatnya di gedung TNR (Teknik Non Reguler) sebelum jam 07:00 pagi serta tidak lupa untuk menyiapakan beberapa perlengkapan lapangan dan alat tulis menulis guna mempermudah untuk mengambil data nantinya. Selang beberapa menit sekitar setengah jam, Dalmas yang merupakan kendaraan untuk menuju ke lokasi sudah tiba di titik kumpul. Segara kami mengangkat semua alat-alat yang akan digunakan di lapangan ke atas kendaraan. Sebelum berangkat, kami membaca doa bersama untuk keselamatan disepanjang perjalanan nantinya.

Sekitar pukul 10:30 kami tiba di lokasi lapangan, tepatnya di Desa Barugae. Kami kemudian berjalan dengan beberapa alat di tangan kami untuk mengambil data. Sekitar lima belas menit kemudian, kami dikumpulkan kembali untuk penyampaian beberapa hal mengenai apa saja yang akan dan perlu dilakukan pada saat mengambil data. Setelah itu kami kemudian dibagi menjadi beberapa team untuk mengambil data tertentu sesuai dengan yang sudah dibagikan sebelumnya.

Gambar 1. Pembekalan materi pengambilan data lapangan

Di sini, ada dua pos yang akan digunakan dalam mengambil data. Untuk pos pertama, kami akan mengambil data berupa ketebalam setiap perlapisan, strike dan dip, kenampakan bentuk lapangan dan tentunya adalah pengambilan sampel untuk mengetauhui batuan yang ada di pos ini.

Beberapa menit setelah sampai di pos pertama, sekitar empat orang naik ke puncak tebing untuk melakukan pengukuran dari atas ke bawah tebing. Pada lokasi pertama, ada sekitar empat lapisan yang diketahui dan diambil ukuran ketebalannya menggunkan meteran roll. Di pos ini juga ada perbendaan ketinggian perlapisan jika ditotal dari ketebalan setiap lapisannya. Di titik pertama kami mendapatkan ketinggian sekitar 840 cm, titik kedua sekitar 820 cm, dan titik ketida sekiatr 810 cm. Ada juga untuk titik pengambilan data yang telah terkena longsor sehingga dalam mengambil data kurang akurat.

Gambar 2. Pengambilan data untuk setiap ketebalan lapisan

Setelah mengambil data untuk ketinggian setiap perlapisan, kami kemudian mendengar beberapa arahan dari asisten dan dosen untuk mengambil data selanjutnya dan beberapa pelajaran mengenai cara mengenali batuan dari bantuk dan warana dari batuan yang diteliti. Beberapa kemudain, kami kembali mengambil data beruka strike dan dip pada pos pertama. Dari data yang didapatkan untuk strike dan dip terdapat lagi beberapa nilai yang berbeda. Di sini kami mengambil data dari tiga titik berbeda. Untuk titik pertama kami dapatkan 04o-50-39,3 S dan 119o-53-03,6 E. untuk titik kedua kami dapatkan 04o-50-39,9 S dan 119o-53-03,3 E. Kemudian pada titik ketiga kami dapatkan 04o-50-38,6 S dan 119o-53-03,3 E. dari data ini jelas bahwa ternyata dalam mengambil data seperti strike dan dip ini sangat dipengeruhi oleh posisi dan ketelitian dalam mengambil data. Akan lebih bagus mengambil data pada posisi kelurusan tebing ataupun batuan yang bagus dalam melakukan pengambilan data.

Gambar 3. Pengambilan data strike dan dip

Selanjutnya, setelah mengambil dua data tadi, kami menggambar kenampakan pada lokasi pertama tempat pengambilan data. Ini berguna untuk mengetahui posisi dan struktur perlapisan batuan. Kemudian mengambil sampel batuan untuk diteliti lebih lanjut lagi guna mengetahui batuan apa saja yang ada pada pos pertama ini. Beberapa menit kemudian kami berpindah ke lokasi selanjutnta, yaitu pos terakhir. Kali ini kami hanya diberikan waktu 2 jam lamanya untuk mengambil data. Hari itu juga cuaca sedikit mendung dan akan turun hujan jika kami melihat kondisi cuaca saat itu. Hal ini juga perlu diperhatikan, sebab dalam mengambil data lapangan yang paling penting adalah keselamatan kerja.

Ketika kami sampai pos selanjutnya, segera kami bergegas untuk mengambil data. Kali ini, dalam mengambil data lapangan sama saja dari pos sebelumnya. Cuman dari struktur lapisan dan ketinggian tempat pengambilan data saja yang membedakan. Serta kami hanya mengambil 2 titik saja dalam pengukuran. Untuk titik pertama, kami mendapatkan total ketebalan dari setiap lapisan dari bawah ke atas sekitar 14,40 m dan pada titik kedua sekitar 16 m dari empat lapisan. kemudian untuk pada pengukuran selanjutnya adalah mengambil data strike dan dip. Untuk titik pertama kami dapatkan sudur elevasi 04o-80o-49,40o S dan 119o-88-77,04 E. kemudian untuk tempat kedua kami dapatkan 04o-84-50,12 S dan 116o-88-46,59 E.

Gambar 4. Pengambilan data ketebalan perlapisan dan straight dan deep

Sekitar pukul 14:00 kami telah menyelesaikan pengambilan data dan hujanpun mengguyur lokasi titik kumpul. Tidak lami kami menunggu, hujan yang mengguyur tadi telah berhenti dan segera kami bergegas untuk kembali ke kampus. Semua barang-barang yang digunakan dalam mengambil data sudah dinaikkan ked almas guna mengefisieankan waktu yang digunakan sebelum pulang. Tidak lupa semua sampah yang dikeluarkan kami kembali mengambilnya sebab itu merupakan tanggung jawab kami untuk tidak mengotori lokasi pengambilan data. Pada pukul 14:30 kami melanjutkan perjalan ke kampus kembali dan sekitar 3 jam diperjalanan kami tiba di lokasi awal kumpul.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Oleh: Iksan Milham (H22116001)

Pada hari sabtu tanggal 11 November 2017 kami melakukan field trip di beberapa tempat di daerah Gowa. Kami berangkat pukul 07:45 WITA di Kampus Universitas Hasanuddin bagian Gedung TNR. Sebelum berangkat kami mengisi daftar hadir untuk mengetahui semua teman kami yang akan berangkat sudah dipastikan sudah berada di lokasi titik kumpul. Kemudian kami menunggu dalmas dan bus kampus sebagai kendaraan yang membawa kami ke lokasi praktik lapangan. Tidak lama menunggu, kendaraannya pun datang. Di dalam perjalanan kami, sempat ada masalah kecil yang terjadi dimana bus kampus yang dikendarai berhenti dikarenakan mesinnya yang bermasalah jika terlalu panas. Alhasil kami menunggu beberapa menit untuk berangkat kembali. Setelah beberapa menit di dalam perjalanan, tiba-tiba bus yang tadi mogok di awal perjalanan sempat mengalami masalah kembali dimana bus tersebut tidak mampu melaju di area jalan yang sedikit menanjak. Sempat memberikan kehebohan karena bus tadi tiba-tiba mundur, namun hal tersebut tidak berlaku  lama.

Tidak lama kemudian, sekitar pukul 09:50 kami tiba di lokasi pos 1. Awalnya kami tidak tahu bagaimana bisa kami melakukan praktik lapangan di daerah yang sedikit curam. Namun dengan  melihat teman-teman kami yang lain begitu semangat melihat lokasi tersebut jadi team kami juga ikut bersemangat. Di sini kami diberikan arahan dari asisten yang membimbing kami dari awal yang mana diajarkan untuk melakukan pengukuran strike dan dip. Kemudian dikenalkan mengenai alat-alat yang akan digunakan dalam pengukuran strike dan dip dan juga alat untuk mengambil beberapa sampel. Alat yang digunakan adalah palu geologi dan kompas geologi. Kemudian kami dibagi dalam melakukan pengukuran yang menempati 3 titik. Kelompok kami yakni kelompok 3 berada di titik pertama yang mana kami mengukur strike dan dip pada batuan yang sejenis batuan sedimen yang memiliki ukuran tinggi kira-kira 240 cm dan lebar sekitar 180 cm. Selanjutnya, dalam melakukan pengukuran kami diberikan tugas mengambil data secara bergiliran yang bertujuan untuk memahami betul cara menggunakan kompas geologi dalam pengambilan data.

Gambar I Pengarahan dan pengajaran mengenai pengukuran strike dan dip

 

Lokasi pengukuran strike dan dip berada pada koordinat S 05’ 31’218O  dan E 119’ 62’600O . Cara pengukuran batu yang dilakukan pada strike untuk mengukur kelurusan arahnya terhadap arah utara. Dan dip dilakukan untuk mengukur kemiringan arahnya terhadap arah utara. Untuk skala strike kita menggunakan skala luar dan dip menggunakan skala dalam. Kemudian batu yang diukur itu jenis batuan sedimen. Hasil pengukuran yang didapat pada strike berada pada titik koordinat 85o E dan dip berada pada titik koordinat 58o N. kemudian hasil yang didapatkan tadi dikumpulkan sebagai data pengukuran awal
di lapangan.

Gambar II Pengukuran strike dan dip

 

Setelah mengambil data sekitar 30 menit, kami melanjutkan perjalanan ke pos 2 sekitar pukul 10:32 WITA. Kami diarahkan oleh asisten untuk menunggu di dekat bus. Kami menunggu dalmas beberapa menit. Semantara menunggu dalmas, beberapa asisten yang ikut memberikan informasi mengenai pembentukan gunungapi Sapaya dan Bontoloe. Awalnya pada zaman Tersier tepatnya di Sulawesi dikenal dengan Formasi Camba. Kemudian formasi tadi mengalami hasil interpretasi sehingga membentuk gunungapi Sapaya dan Bontoloe. Formasi Camba pada zaman Miosen membentuk tiga fase yakni fase proksimal, fase distal dan fase medial. Setelah mendengarkan beberapa info, dalmas pun datang dan kami pun beranjak menuju lokasi pos 2.

Setelah kurang lebih 45 menit dalam perjalanan, kami pun tiba di lokasi pos 2 pada pukul 11:45 WITA. Lokasi kami tempati dikenal dengan nama Sungai Jennelata. Lokasi ini berada pada titik koordinat S 05’29’414O dan E 119’59’618O. Tak terasa ternyata hari sudah berada pada pertengahan. Kami mengambil makanan yang berada pada dalmas dan membawanya ke lokasi pengambilan data. Kami berjalan sekitar 500m untuk tiba di sungai tempat pengambilan data. Di lokasi kami menerima arahan dari asisten tentang apa yang kami lakukan nantinya. Di pos 2 ini, kami diminta untuk mengambil data dyke, pengukuran strike serta dip dan mengambil sampel yang nantinya digunakan untuk mengetahu struktur mineral yang ada pada sampel.

Setelah menerima arahan, kami beranjak mengambil data seperti yang dilakukan pada lokasi pertama tadi. Hasil yang didapatkan pada batuan dalam pengukuran strike berada pada titik koordinat 3550 E dan hasil yang didapatkan pengukuran dip di batuan berada pada titik koordinat 480. Setelah mendapatkan nilai strike dan dip pada pengukuran tadi, kemudian kami mengambil beberapa sampel batuan yang akan digunakan untuk mengetahui kandungan mineralnya. Sementara itu, kami juga mendengar beberapa informasi mengenai keadaan tanah yang ada pada lokasi pengambilan data. Di sekitar pengambilan data, asisten menjelaskan bahwa di daerah sini terdapat dyke. Dimana dyke ini dikenal dengan keadaan fisik yang keluar memanjang dan lurus yang mana bagian sekitarnya terdapat tanah berwarna merah. Tanah tersebut berwarna merah dikarenakan adanya pembakaran magma di perut bumi akan tetapi dia tidak dapat membentuk batuan sehingga yang muncul disamping tanah tersebut dikenal dengan dyke yang membentang. Struktur warna yang berwarna tadi hanya terdapat disamping dyke saja meskipun dia membentang melewati anak sungai. Dan dalam pengambilan pengukuran strike dan dip untuk mempermudah, dyke dapat menjadi patokan.

Gambar III pengukuran strike dan dip pada dyke dan pengambilan sampel batuan

 

Setelah sedikit lama mengambil data, kami pun diarahkan kumpul kembali dan asisten meminta kami untuk mengambil gambar sebagai dokumentasi pada field trip kali ini. Selanjutnya kami diarahkan untuk makan siang di dekat lokasi pengambilan data. Setelah makan, kami pun beranjak dari lokasi untuk menuju ke masjid untuk menunaikan ibadah sebagai seorang muslim. Sekitar pukul 12:45 kami berangkat dan tiba di masjid sekitar 10 menit berlalu. Kami istirahat sejenak dan Shalat. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan sekitar pukul 13:20. Kami tiba kembali di lokasi awal berkumpul sekitar 15:25 WITA. Adapun tujuan dari field trip yang dilakukan yakni, mengetahui jenis batuan yang diketahui, mengenal fase bentang alam, mengetahui proses terbentuknya dyke dan fenomena tanah yang berwarna merah yang terdapat di sekitar dyke yang muncul, mengetahui cara penggunaan kompas geologi dalam pengukuran strike dan dip di lapangan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail